Harga Telur Mengalami Kenaikan, Tapi di Peternak Harga Murah

8
Peternak Telor Ayam (foto net)

KilNews.com, JAKARTA – Meskipun tengah terjadi kenaikan harga telur di tingkat konsumen, nyatanya situasi yang sama tak terjadi di tengah para peternak. Harga telur justru tengah dalam tren penurunan disaat biaya produksi mengalami kenaikan signifikan.

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) Rofi Yasifun, mengatakan, harga telur saat ini dihargai antara Rp 19.500 – Rp 20.500 per kilogram (kg). Tingkat harga itu menurun dari awal hingga pertengahan Desember 2020 yang sekitar Rp 21.000 – Rp 24.000 per kg.

Menurut dia, faktor pertama penyebab turunnya harga karena aktivitas ekonomi untik persiapan masyarakat menyambut momen natal dan tahun baru sudah terlewati sehingga tren permintaan cenderung menurun.

Penyebab lainnya yakni soal isu kebijakan operasi pasar oleh pemerintah. “Penurunan harga telur juga salah satunya terbentuk oleh isu. Salah satunya terkait akan adanya operasi pasar telur,” kata Rofi , Kamis (24/12).

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Pertanian kembali menggelar operasi pasar telur di sejumlah titik wilayah Jakarta dan Bogor. Harga telur dipatok Rp 24 ribu per kg.

Rofi mengatakan, kebijakan itu berpengaruh kepada para agen-agen besar di Jawa Barat yang untuk menunda pembelian dari para pedagang telur di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Itu lantaran harga jual telur secara normal dipastikan akan lebih tinggi dari stok yang dijual dalam operasi pasar.

“Artinya yang terjadi di produsen (peternak) ada penumpukan dan itu membuat aksi menurunkan harga penawaran dengan asumsi hari ini dan besok harga akan cenderung turun,” kata Rofi.

Menurutnya, penurunan harga itu sangat merugikan peternak. Pasalnya, biaya produksi saat ini sudah di kisaran Rp 21.000 – Rp 22.000 per kg. Itu sebabnya, harga jual telur dari peternak sebelumnya meningkat hingga Rp 24 ribu per kg yang membuat harga di pasar ikut naik mendeketati Rp 30 ribu per kg.

Sebagai catatan, acuan pemerintah untuk harga telur di tingkat peternak yakni sebesar Rp 19.000 – Rp 21.000 per kg. Adapun di tingkat konsumen sebesar Rp 24.000 per kg.

Rofi menjelaskan, naiknya biaya produksi karena bahan baku saat ini cukup mahal. Bahan baku pakan seperti soy bean meal (SBM) yang harganya mencapai Rp 8.000 dari posisi dua bulan lalu hanya Rp 5.600 – Rp 5.800 per kg serta meat and bone meal (MBM) yang dihargai Rp 10.000 – Rp 10.500 per kg dari sebelumnya berkisar Rp 7.000 – Rp 7.100 per kg. Selain itu, harga jagung juga ikut naik dan kini dihargai Rp 6.000 per 6.800 per kg.

Harga bibit ayam day old chicken (doc) layer yang melonjak dalam setahun terakhir. Dari harga normal Rp 8.000 – 9.000 per kg menjadi Rp 17.000 – Rp 20.000 per kg. Faktor-faktor bahan baku itu, menurut Rofi, membuat harga telur dari tingkat peternak turut meningkat.

“Artinya, hari ini (disaat harga turun) peternak itu sudah minus. Telur mahal sekarang pun, peternak itu rugi,” kata dia.

Oleh karena itu, Rofi meminta agar pemerintah tidak hanya melakukan intervensi di tingkat hilir dengan operasi pasar. “Seharusnya lakukan juga operasi pasar di hulu, bahan baku pakan, bibit ayam yang terjangkau. Harga bahan baku yang diterima peternak itu sudah melanggar aturan,” katanya.(republika)