KPK Memperpanjang Periode Penahanan Edhy Prabowo & Empat Terdakwa Suap Benih Lobster

4
Edhy Prabowo (foto net)

KilNews.Com, JAKARTA – Komisi Pembasmian Korupsi (KPK) perpanjang periode penahanan Menteri Kelautan dan Perikanan non-aktif, Edhy Prabowo (EP), pada ini hari. Terdakwa kasus sangkaan suap berkaitan hal hadiah biar export benih lobster itu diperpanjang periode tahanannya sepanjang 40 hari kedepan semenjak 15 Desember 2020 hingga 23 Januari 2021.

Tidak cuman Edhy, KPK perpanjang periode tahanan empat terdakwa yang lain. Ke-4 terdakwa yg diperpanjang penahanannya yakni, Staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF); Pengurus PT Aero Citra Ekspedisi (ACK), Muriddi (SWD); Staff Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

“Ini hari, 14/12/2020 dikerjakan ekstensi penahanan dalam lima orang terdakwa semasing sepanjang 40 hari diawali lepas 15 Desember 2020 sampai 23 Januari 2021,” ucap Plt Juru Berbicara KPK, Ali Fikri lewat pesan secara singkat, Senin (14/12/2020).

Selanjutnya, istilah Ali, ke-lima terdakwa kasus sangkaan suap berkaitan hal anugerah izin export benih lobster itu ditahan pada Rutan cabang KPK dalam Rutan Gedung Merah Putih KPK. Kelimanya diperpanjang penahanannya sebab penyidik masih perlu ketika buat kumpulkan bukti tambahan.

“Ekstensi penahanan dikerjakan sebab penyidik KPK masih memakan saat buat lengkapi file kasus beberapa terdakwa itu,” ungkapnya.

Selama ini, KPK baru tetapkan tujuh terdakwa masalah sangkaan suap berkaitan hal anugerah biar export benih lobster. Ke-7 terdakwa itu yaitu, bekas Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Staf khusus Menteri Kelautan & Perikanan, Safri (SAF) & Andreau Individu Misata (APM).

Selanjutnya, Pengurus PT Aero Citra Ekspedisi (ACK), Muriddi (SWD); Staff Istri Menteri Kelautan & Perikanan, Ainul Faqih (AF); & faksi partikelir Amiril Mukminin (AM). Sesaat satu terdakwa pemberi suap yaitu, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Individu Misanta, Muriddi, Ainul Faqih, & Amril Mukminin diperhitungkan terima suap sejumlah Rp 10,dua miliar dan USD 100 ribu berdasarkan Suharjito. Suap itu diberi agar Edhy memberi ijin ke PT Dua Putra Gagah Pratama buat terima ijin selaku exportir benur.

Beberapa uang suap itu dipakai oleh Edhy & istrinya, Iis Rosyati Dewi buat berbelanja barang eksklusif pada Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Seputar Rp750 juta dipakai buat beli arloji Rolex, tas Tumi & Louis Vuitton & pakaian Old Navy.(waspada)