Trump Ingatkan Penghitungan Suara Diperpanjang di Pennsylvania Dapat Picu Kekerasan

Trump (foto net)

KilNews.com – Dalam hari terakhir kampanyenya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan mengenai kekerasan pasca pemilu karena keputusan Mahkamah Agung untuk mengizinkan penghitungan suara yang diperpanjang di Pennsylvania, yang mungkin akan menjadi negara bagian penentu.

Jajak pendapat menunjukkan mantan Wakil Presiden Joe Biden sedikit unggul di negara bagian itu di mana kertas suara yang diposkan, yang diperkirakan menguntungkan Demokrat, mungkin tidak akan ditabulasi selama berhari-hari setelah pemilu hari Selasa.

Di antara rapat-rapat umumnya hari Senin di Traverse City, Michigan, dan Kenosha, Wisconsin, Trump mencuit bahwa penghitungan yang diperpanjang terhadap kertas suara semacam itu di Pennsylvania “dapat memungkinkan terjadinya kecurangan yang merajalela dan tidak terkendali serta akan merongrong seluruh sistem hukum kita. Ini juga akan mendorong kekerasan di jalan-jalan. Sesuatu harus dilakukan!.”

Twitter kemudian menandai cuitan itu dengan menyebutkan, “Sebagian atau seluruh konten dalam cuitan ini diperdebatkan dan mungkin menyesatkan mengenai pemilu atau proses sipil lainnya.”

Menyusul cuitan presiden, Biden ditanya wartawan mengenai peringatan Trump soal kekerasan di jalan-jalan.

“Saya tidak akan menanggapi apa pun yang ia katakan,” jawab kandidat Partai Demokrat itu sebelum naik pesawat jet kampanye untuk pulang ke Delaware. “Saya mengharapkan pemilu yang lugas, damai dan banyak orang berpartisipasi,” lanjutnya.

Kathy Boockvar, pejabat tertinggi Pennsylvania yang antara lain menangani keamanan dan kesejahteraan warga, tampil di CNN, mengecam cuitan presiden dan mengatakan infrastruktur pemilu negara bagian itu aman dari kecurangan. “Saya tidak tahu apa yang ia bicarakan, tetapi untuk mengatakan sesuatu mengenai menghasut kekerasan sama sekali tidak pantas,” kata Boockvar.

Pada rapat umum di Kenosha, Trump mengatakan “itu keputusan Mahkamah Agung yang sangat-sangat berbahaya. Saya kira itu adalah keputusan politik.” Ia berharap para hakim agung akan mengubah putusan mereka.

Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Christopher Way memberitahu para legislator pada September lalu bahwa AS belum melihat “ada upaya kecurangan pemilih nasional terkoordinasi apapun dalam suatu pemilihan penting, baik melalui pos atau yang lainnya.”

Trump pada hari Minggu membantah laporan media bahwa ia telah memberitahu orang-orang kepercayaannya, ia akan menyatakan kemenangan pemilu pada malam hari pemilihan, bahkan seandainya hasil dari Elektoral College (perwakilan pemilih) belum jelas.

Pendahulu Trump, Barack Obama, berkampanye mewakili Biden pada hari Senin di kawasan Little Havana, Miami. Ia mengatakan “itu bukan sesuatu yang dilakukan seorang pemimpin demokrasi. Itu sesuatu yang dilakukan seorang diktator murahan.”

Biden berbicara mengenai Trump pada kampanye drive-in (hadirin berada di dalam mobil) di Cleveland, Ohio. “Karakter Amerika secara harfiah ada pada kertas suara.”

Diskusi mengenai berbagai isu selama kampanye sebagian besar dibayangi oleh saling serang pribadi oleh kedua kandidat serta pandemi virus corona.

Presiden, sebelumnya pada hari Senin di North Carolina, menekankan tentang pemulihan ekonomi di tengah-tengah pandemi, dan menjanjikan akan mendistribusikan vaksin secara besar-besaran dalam beberapa pekan lagi saja.

Sementara itu para pejabat kesehatan, termasuk di dalam pemerintahan Trump, memprediksi sebagian besar rakyat Amerika kemungkinan besar tidak akan mendapat vaksinasi COVID-19 sebelum awal atau pertengahan 2021.

Sementara presiden berkampanye, pemberian suara resmi pertama berlangsung di dua desa di New Hampshire. Seluruh lima suara di Dixville Notch diberikan untuk Biden. Di Millsfield, 16 suara untuk Trump dan lima untuk Biden.

Hasil nasional belum diumumkan resmi hingga beberapa pekan kemudian. Tenggatnya bervariasi di setiap negara bagian.(VOA INDONESIA)

BAGIKAN