Kasus Oknum Guru SD Melakukan Pencabulan Terhadap 8 Siswa Divonis 10 Tahun Penjara

Pengadilan Negeri Surabaya (foto net)

KilNews.com, SURABAYA – Nicholas Handy Biantoro (40), terdakwa kasus pencabulan 8 siswa di sebuah SD swasta di Surabaya, divonis 10 tahun penjara. Majelis hakim menilai terdakwa terbukti bersalah karena melakukan pencabulan anak di bawah umur.

Pembacaan vonis berlangsung secara teleconference di ruang Garuda Pengadilan Negeri Surabaya. Adapun sidang dipimpin oleh hakim ketua Saparuddin.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Nicholas Handy Biantoro terbukti bersalah dalam kekerasan anak dan turut serta dan cabul. Menjatuhkan pidana selama 10 tahun penjara,” kata Saparuddin dalam amar putusannya, Selasa (3/11/2020).

Selain menjatuhkan vonis 10 tahun penjara, majelis hakim membebankan denda kepada terdakwa sebesar Rp 10 juta. Jika tidak mampu membayar, terdakwa harus menggantinya dengan 3 bulan kurungan.

“Juga membebankan denda kepada terdakwa sebesar Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan,” tutur hakim.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim kepada terdakwa lebih ringan 2 tahun dari tuntutan jaksa. Sebab, dalam sidang tuntutan, jaksa menuntut terdakwa dengan pidana 12 tahun penjara. Sementara itu, setelah mendengar vonis tersebut, terdakwa mengaku menerimanya

Sebelumnya diberitakan, guru SD swasta di Surabaya diamankan polisi karena mencabuli delapan siswa-siswinya. Pencabulan dilakukan dengan modus memeriksa kesehatan korban.

Guru yang diamankan Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya berinisial NHB (40). Pelaku diamankan pada Februari lalu setelah petugas menerima laporan dari orang tua korban.

“Kita mengungkap kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur yang mana korbannya lebih dari satu orang. Yang teridentifikasi masih delapan orang. Korban laki-laki dan perempuan,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya Kompol Ardian Satrio Utomo kepada wartawan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (12/3/2020).

Ardian menambahkan, pelaku diketahui berprofesi sebagai guru di salah satu SD swasta di Surabaya. “Salah satunya guru matematika. Namun sekarang sudah dikeluarkan dari sekolah,” imbuh Ardian.(POLKRIM)